Posisi Mikel Arteta di kursi pelatih Arsenal sedang benar-benar goyah. Serangkaian hasil buruk di berbagai kompetisi membuat tekanan terhadapnya semakin besar.
Di Premier League, The Gunners mencatatkan start terburuk mereka dalam beberapa dekade — hanya mengumpulkan 13 poin dari 12 pertandingan dan terperosok di papan bawah klasemen.
Masalahnya bukan cuma soal hasil, tapi juga bagaimana tim bermain: minim kreativitas, tumpul di depan gawang, dan kehilangan identitas permainan yang dulu sempat mulai terbentuk.
Namun, di balik sorotan tajam dan kritik pedas, masih ada sebagian pihak yang percaya bahwa Arteta layak diberi waktu lebih lama untuk memperbaiki keadaan.
Jadi, apakah Arteta sebaiknya dipecat… atau justru dipertahankan? Berikut dua sisi ceritanya 👇
3 Alasan Mikel Arteta Layak Dipecat
1. Habis Waktu dan Kesabaran
Arteta sudah duduk di kursi pelatih sejak Desember 2019. Awalnya, ia membawa harapan baru dengan menjuarai Piala FA dan memperlihatkan perubahan positif.
Namun, setelah lebih dari satu musim penuh, progres itu seolah menghilang. Arsenal justru tampak lebih buruk daripada era Unai Emery. Identitas permainan yang dulu jelas kini kabur, dan hasil tak kunjung membaik.
2. Keputusan Taktis yang Membingungkan
Banyak keputusan Arteta sulit dipahami.
Ia memaksa memainkan Aubameyang di sayap kiri dan Lacazette di tengah meski keduanya kehilangan sentuhan terbaik. Pemain muda seperti Eddie Nketiah terus diberi peluang, sementara sosok kreatif seperti Nicolas Pepe sering dicadangkan.
Keputusan paling kontroversial tentu saja mencoret Mesut Özil dari skuad — padahal justru kreativitaslah yang paling hilang dari permainan Arsenal.
3. Kehilangan Dukungan Ruang Ganti
Kabar dari dalam klub menyebutkan bahwa Arteta mulai kehilangan kepercayaan para pemain. Sikap frustrasi di lapangan tampak jelas — dari kartu merah tak perlu hingga performa yang terlihat tanpa semangat.
Ketika ruang ganti mulai retak, sulit bagi pelatih mana pun untuk membalikkan keadaan.
3 Alasan Arteta Layak Dipertahankan
Arteta datang dengan filosofi dan rencana besar untuk mengembalikan DNA Arsenal: bermain indah namun tetap efektif. Ia mencoba membangun fondasi baru, termasuk sistem bermain dari belakang yang modern.
Memang, hasil belum konsisten — tapi perubahan besar butuh waktu.
2. Situasi yang Tak Ideal
Musim ini Arsenal dihadapkan pada banyak kendala: cedera pemain kunci, jadwal padat, hingga minimnya pramusim karena pandemi. Dalam kondisi seperti itu, sulit menuntut performa maksimal.
Arteta juga masih dalam proses menemukan keseimbangan antara pemain muda dan senior.
3. Siapa Penggantinya?
Memecat Arteta bukan solusi instan. Pertanyaannya: siapa yang siap menggantikan?
Nama-nama besar seperti Allegri atau Pochettino memang sempat disebut, tapi masing-masing punya kendala. Pochettino pernah melatih Tottenham — rival sekota, sementara Allegri butuh waktu adaptasi dengan gaya sepak bola Inggris.
Arteta, setidaknya, sudah mengenal Arsenal luar dalam. Ia tahu karakter klub dan nilai-nilai yang dipegang suporter.
Kesimpulan: Antara Harapan dan Ketakpastian
Mikel Arteta sedang berdiri di persimpangan. Di satu sisi, tekanan hasil membuatnya tampak di ujung tanduk. Di sisi lain, masih ada keyakinan bahwa ia bisa membawa Arsenal keluar dari krisis — jika diberi waktu dan dukungan penuh.
Yang jelas, masa depan Arteta tak hanya bergantung pada taktik di lapangan, tapi juga seberapa besar kesabaran manajemen dan kepercayaan dari para pemainnya.
Apakah kamu ingin versi ini dibuat seperti artikel media olahraga profesional
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)